Taman Langit
Sungguh! Lapar ini tak bisa menembus kerjaan langit-Mu,
sungguh-sungguh telah ku ketuk pintunya dengan hanya seteguk air,
tapi ku sadari hamba muda dalam fana dan iman,
rahmat-Mu mendahului ketukannya
Sungguh! Haus ini tak bisa menembus kerjaan langit-Mu,
sungguh-sungguh telah ku ketuk pintunya dengan hanya sepotong roti,
ku sadari hamba adalah hamba,
rahmat-Mu mendahului segalanya
Dengan rahmat-Mu saja bukan hanya dengan laparku,
dengan rahmat-Mu saja bukan hanya dengan hausku,
hanya dengan rahmat-Mu ketersingkapannya,
hanya dengan rahmat-Mu bukaannya
Rahmat-Mu hadirkan rindu hamba,
rahmat-Mu inginkan hamba disana,
baru ku sadari aku berada di taman langit-Mu,
dan Engkau rahmati aku di sini di taman langit-Mu
Puter, 17 Dzul-Qa’dah 1427 H
About this entry
You’re currently reading “Taman Langit,” an entry on Adang Hidayat
- Published:
- December 7, 2006 / 2:13 am
- Category:
- Mutiara Hati
- Tags: